Aku, Rian, masih ingat jelas malam itu, setahun lalu, ketika hidup kami berubah selamanya. Ayah, yang selalu pulang tepat waktu dengan senyum lebar dan cerita lucu tentang pelanggannya di bengkel, tak pernah sampai rumah malam itu. Hujan deras mengguyur kota, dan aku masih di kamar, asyik main game di laptop. Bunda Anggi, seperti biasa, sibuk di dapur menyiapkan makan malam, aroma ayam gorengnya menguar ke seluruh rumah. Tiba-tiba telepon rumah berdering, dan aku dengar Bunda berlari menjawabnya. Suaranya yang tadinya ceria berubah panik dalam hitungan detik. “Apa? Kecelakaan? Di mana?” katanya, nadanya gemetar. Aku langsung matiin game dan lari ke ruang tamu, perasaan nggak enak udah nyanyi di kepalaku.
3919Please respect copyright.PENANA40O66x2i5B
Bunda memegang telepon dengan tangan gemetar, wajahnya pucat seperti kertas. “Rian, cepat ambil jaketmu, kita ke rumah sakit sekarang!” katanya, suaranya nyaris pecah. Aku cuma bisa ngangguk, bingung, tapi tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi. Di mobil, Bunda nyetir dengan tangan kaku, matanya berkaca-kaca tapi dia berusaha tenang. “Ayahmu kecelakaan, Rian. Tapi dia pasti baik-baik aja, ya,” katanya, lebih kayak meyakinkan dirinya sendiri. Aku cuma bisa diam, tanganku mencengkeram sabun pengaman, berdoa dalam hati. Hujan di luar makin deras, seperti langit ikut menangis sama kami.
3919Please respect copyright.PENANAzZZ0kygwqh
Sampai di rumah sakit, kami disambut dokter dengan wajah muram. Dia bilang Ayah tertabrak truk saat pulang dari bengkel, motornya hancur total. “Kami sudah coba yang terbaik, tapi beliau tidak bisa diselamatkan,” kata dokter itu pelan. Bunda langsung ambruk ke lantai, tangisnya pecah, dan aku cuma berdiri membatu, nggak percaya. “Nggak mungkin, Dok. Ayahku kuat, dia pasti cuma pingsan!” kataku, suaraku serak. Dokter cuma menggeleng, dan perawat memimpin kami ke ruangan tempat Ayah terbaring. Melihat tubuhnya yang diam, wajahnya penuh luka, aku tahu itu nyata, tapi hatiku menolak.
3919Please respect copyright.PENANAHfFEvHk6BR
Malam itu, rumah kami terasa kosong, meski penuh dengan tetangga yang datang melayat. Bunda duduk di sofa, memeluk fotonya dan Ayah, matanya sembab tapi dia coba tersenyum setiap ada yang ngomong. Aku cuma bisa duduk di sudut, mendengar bisik-bisik tetangga tentang kecelakaan itu. “Katanya truknya ngebut, nggak lihat motornya Pak Budi,” kata salah satu tetangga. Aku cuma pengen teriak, “Diam, jangan omongin Ayahku!” tapi aku cuma diam. Bunda sempat memelukku malam itu, “Rian, kita harus kuat, ya. Ayah pasti ingin kita lanjutkan hidup,” katanya lembut. Aku cuma mengangguk, meski rasanya dunia udah runtuh.
3919Please respect copyright.PENANAcF1OLq4SwV
Keesokan harinya, setelah pemakaman, Bunda mulai membongkar dokumen-dokumen Ayah. Ternyata, Ayah sudah menyiapkan segalanya dengan rapi, seperti tahu dia nggak akan lama. Ada asuransi jiwa yang jumlahnya cukup besar, ditambah investasi di reksadana yang Ayah sisihkan dari penghasilan bengkelnya. “Ayahmu selalu bilang, ‘Anggi, kalau aku nggak ada, kamu dan Rian harus tetap hidup nyaman’,” kata Bunda sambil menatap kertas-kertas itu. Aku cuma bisa menatapnya, kagum sekaligus sedih. Ayah, meski cuma mekanik biasa, ternyata punya rencana matang buat kami. “Bunda, Ayah hebat banget, ya,” kataku pelan. Bunda tersenyum tipis, “Iya, Rian. Dia selalu mikirin kita.”
3919Please respect copyright.PENANATtMcqhztbH
Harta peninggalan Ayah nggak bikin kami kaya raya, tapi cukup untuk hidup. Asuransi itu menutup cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari, sementara investasi memberikan tambahan bulanan. Bunda memutuskan untuk nggak kerja dulu, fokus ngurus aku dan rumah. “Rian, Bunda mau pastikan kamu kuliah dengan tenang,” katanya suatu sore sambil nyanyi-nyanyi di dapur. Aku cuma geleng-geleng, “Bunda, aku udah 20 tahun, bukan bocah lagi!” Dia cuma tertawa, “Buat Bunda, kamu tetep anak kecil!” God, Bunda ini kadang bikin aku pengen kabur.
3919Please respect copyright.PENANAniLxEvZZuM
Tapi di balik sikap manjanya, aku tahu Bunda berusaha sembunyikan kesedihannya. Kadang malam-malam, aku dengar dia nangis pelan di kamarnya, memeluk baju Ayah. Aku pernah masuk, pura-pura cari minum, dan lihat matanya sembab. “Bunda, kenapa nggak tidur?” tanyaku. Dia cuma tersenyum, “Cuma kangen Ayahmu, Rian.” Aku nggak tahu harus bilang apa, cuma peluk dia dan berharap itu cukup. Kehilangan Ayah bikin Bunda jadi over protektif, kayak takut aku juga bakal hilang. Aku ngerti, tapi kadang rasanya berat.
3919Please respect copyright.PENANASkKzs9T15S
Hari-hari setelah kepergian Ayah, rumah kami masih sama, tapi rasanya beda. Meja makan yang dulu penuh tawa Ayah kini sering sunyi, cuma ada aku dan Bunda. Dia suka ceritain kenangan tentang Ayah, kayak waktu dia ngajarin aku naik sepeda. “Ayahmu dulu lari-lari di belakangmu, takut kamu jatuh!” katanya sambil tertawa. Aku ikut ketawa, tapi hatiku perih. Aku rindu Ayah, rindu candaannya, rindu omelannya pas aku males belajar. Tapi aku tahu, aku harus kuat, setidaknya buat Bunda.
3919Please respect copyright.PENANA0sndHNbEBr
Bunda mulai menemukan ritmenya sendiri setelah beberapa bulan. Dia tetap cantik, bahkan lebih memukau dengan daster-daster tipis yang dia pakai di rumah. “Bunda, pakai baju yang agak nutup dong,” kataku suatu hari, risih lihat dia nyanyi-nyanyi sambil nyapu. “Lah, Rian, ini rumah kita! Bunda bebas dong!” jawabnya, sambil nyanyi lagu dangdut. Aku cuma geleng-geleng, tahu nggak bakal menang lawan Bunda. Tapi di luar kekonyolannya, aku lihat dia berusaha bangkit. Dia bilang, “Ayah pasti bangga lihat kita terus hidup, Rian.”
3919Please respect copyright.PENANAl310K8BOF9
Peninggalan Ayah memberi kami keamanan finansial, tapi nggak bisa isi kekosongan di hati. Bunda sering bilang, “Uang dari Ayah ini cuma alat, Rian. Yang penting kita saling jaga.” Aku setuju, meski kadang aku cemburu sama perhatian Bunda yang berlebihan. Dia suka cek tas kuliahku, pastikan aku bawa botol minum, kayak aku masih SD. “Bunda, aku udah besar!” protesku. Dia cuma nyengir, “Besar tapi tetep anak Bunda!” Aku cuma bisa pasrah, tahu ini caranya menunjukkan cinta.
3919Please respect copyright.PENANAqISMG1Qqll
Kehilangan Ayah bikin aku sadar betapa rapuh hidup ini. Aku mulai lebih perhatian sama Bunda, meski kadang dia yang malah ngelindungin aku. Suatu malam, pas kami nonton TV bareng, dia tiba-tiba bilang, “Rian, janji ya, kamu nggak bakal ninggalin Bunda.” Aku kaget, tapi langsung jawab, “Janji, Bunda. Aku selalu di sini.” Dia tersenyum, memelukku erat, dan aku tahu, kami cuma punya satu sama lain sekarang. Rumah ini, meski penuh kenangan Ayah, adalah tempat kami bangun hidup baru. Dan aku bertekad, apa pun yang terjadi, aku nggak akan biarin Bunda sendirian.
3919Please respect copyright.PENANAjKTyxjzwFH
Hari-hari berlalu, dan aku mulai terbiasa dengan ritme baru kami. Bunda tetap manjain aku, tapi aku lihat dia mulai tersenyum lebih sering. Dia suka nyanyi lagu-lagu lawas Ayah, dan kadang aku ikut nyanyi, meski fals. “Rian, suaramu kayak Ayah, lho, sama-sama sumbang!” candanya. Aku cuma nyengir, senang lihat Bunda ketawa lagi. Peninggalan Ayah, meski nggak banyak, memberi kami ruang untuk bernapas. Tapi aku tahu, tantangan baru bakal datang, apalagi dengan pesona Bunda yang mulai bikin tetangga resah.
3919Please respect copyright.PENANA8sYiqErYmW
Aku mulai notice tatapan aneh dari orang-orang, terutama Pak RT yang tiba-tiba rajin mampir. Tapi itu cerita lain, yang mungkin bakal bikin hidup kami lebih rumit. Untuk sekarang, aku cuma fokus sama Bunda, pastikan dia baik-baik aja. “Rian, kamu kuliah yang rajin, ya. Jangan sampe Ayah kecewa di surga,” katanya suatu pagi. Aku mengangguk, “Pasti, Bunda. Buat Ayah, dan buat Bunda.” Rumah ini, dengan segala kenangan dan luka, adalah tempat kami bertahan, dan aku nggak akan biarin apa pun merusak itu.
3919Please respect copyright.PENANACn2wUX6Flk
Ayah mungkin udah nggak ada, tapi semangatnya masih hidup di kami. Bunda, dengan segala kekonyolannya, adalah pengingat bahwa hidup harus terus berjalan. “Rian, kita nggak boleh stuck di masa lalu,” katanya suatu sore, sambil nyanyi pelan. Aku cuma tersenyum, tahu dia benar. Tapi di dalam hati, aku janji sama Ayah, aku bakal jaga Bunda, apa pun yang terjadi. Dan dari sinilah cerita kami dimulai, di rumah kecil ini, penuh cinta, luka, dan harapan baru.
ns216.73.217.31da2


