Hidup di rumah kecil kami bersama Bunda Anggi, 39 tahun, selalu penuh kejutan, apalagi setelah pesonanya bikin tetangga resah. Bunda, dengan payudara 32K dan tubuh yang selalu terawat berkat ritual skincare-nya, seolah magnet buat laki-laki di sekitar kami. Pakaian minimnya, seperti tanktop ketat tanpa bra atau celana dalam yang nyaris nggak nutup apa-apa, bikin orang susah kedip. Aku, Rian, 20 tahun, cuma bisa geleng-geleng tiap lihat Bunda nyanyi-nyanyi sambil nyapu dengan daster tipis. “Bunda, serius, pakai baju yang agak sopan dong!” kataku suatu pagi, risih. Dia cuma tertawa, “Rian, ini rumah kita, Bunda bebas!” Aku menghela napas, tahu protesku sia-sia. Tapi yang bikin aku makin pusing, beberapa laki-laki mulai berani melamar Bunda, dan cerita mereka bikin aku antara kesal dan pengen ketawa.
3135Please respect copyright.PENANAhLdcHRG0i5
Yang pertama adalah Pak Slamet, Pak RT, yang kelihatannya punya niat “mulia” tapi aku curiga cuma kamuflase nafsu. Suatu sore, dia mampir ke rumah dengan alasan ngasih laporan keuangan RT, tapi matanya nggak lepas dari Bunda yang lagi nyiram tanaman dengan tanktop merah ketat. Dia duduk di teras, nyengir lebar, dan mulai ngomong, “Bu Anggi, saya pikir-pikir, Bunda kan janda, pasti kesepian, ya?” Bunda cuma senyum sopan, “Wah, Pak RT, saya sih biasa aja, ada Rian kok.” Pak Slamet nggak nyerah, “Saya serius, Bu, saya bisa ayomi Bunda sebagai warga, lho!” Aku yang nguping dari dalam pengen lempar sandal, Ayomi apaan, Pak, matanya doang yang ngomong! Bunda cuma ketawa kecil, “Makasih, Pak, tapi saya belum kepikiran nikah lagi.”
3135Please respect copyright.PENANAGs7A3oKWaQ
Pak Slamet nggak langsung nyerah, dia malah balik lagi beberapa hari kemudian. Kali ini, dia bawa kue dari istrinya—padahal aku tahu istrinya nggak tahu apa-apa. “Bu Anggi, saya kan RT, tanggung jawab saya jaga warga, termasuk Bunda,” katanya, sambil melirik ketiak mulus Bunda yang kelihatan pas dia angkat tangan nyapu rambut. Bunda cuma mengangguk, “Baik banget sih Pak RT, tapi saya masih betah sendiri.” Aku yang denger dari ruang tamu cuma bisa nyanyi dalam hati, Pak, pulang sana, istri Bapak nunggu! Pak Slamet akhirnya pamit, tapi aku tahu dia bakal coba lagi. Bunda cuma bilang ke aku, “Rian, Pak RT itu lucu ya, sok perhatian banget,” dan aku cuma geleng-geleng, tahu Bunda nggak serius nanggepin.
3135Please respect copyright.PENANA4EFzMMYwky
Laki-laki kedua yang nekat adalah Mas Rudi, tetangga depan rumah yang udah beristri tapi kelakuannya bikin aku muak. Mas Rudi ini terkenal suka menggoda Bunda tiap dia cuci motor di garasi, apalagi pas Bunda jongkok atau nungging, payudaranya yang jumbo goyang-goyang bikin dia menelan ludah. Suatu hari, pas Bunda lagi nyuci motor dengan tanktop basah yang bikin siluet tubuhnya jelas banget, Mas Rudi datang dengan alasan pinjem obeng. “Bu Anggi, kalau Bunda sendiri gini, nggak takut kesepian?” katanya, matanya nempel ke dada Bunda. Bunda cuma ketawa, “Lah, Mas Rudi, saya kan punya Rian, nggak kesepian!” Aku yang ngintip dari jendela pengen teriak, Mas, istri lo di rumah, lho! Tapi Bunda santai aja, kayak nggak notice godaan itu.
3135Please respect copyright.PENANAXoyZJleQ63
Beberapa hari kemudian, Mas Rudi nekat banget. Dia datang pas istrinya lagi ke dokter, dan dengan muka serius bilang, “Bu Anggi, saya serius, saya mau nikahin Bunda, tapi sembunyi-sembunyi dulu, ya.” Bunda yang lagi nyapu teras langsung berhenti, ketawa kecil, “Wah, Mas Rudi, istri Bapak tahu nggak sih rencana ini?” Mas Rudi buru-buru melotot, “Jangan bilang siapa-siapa, Bu, ini rahasia kita!” Aku yang denger dari dalam rumah hampir nyanyi keras, Rahasia apaan, Mas, semua orang tahu lo genit! Bunda cuma menggeleng, “Makasih, Mas, tapi saya nggak mau jadi rahasia siapa-siapa,” katanya tegas tapi tetap senyum. Mas Rudi pulang dengan muka merah, tapi aku yakin dia bakal coba lagi.
3135Please respect copyright.PENANAvBXgHJDQCF
Yang paling bikin aku shock adalah lamaran dari Bima, temen kuliahku sendiri, yang usianya cuma 20 tahun, seumuran aku. Bima ini temen akrabku, sering main ke rumah buat ngerjain tugas, tapi matanya selalu nyasar ke Bunda, apalagi pas Bunda bawa jus dengan tanktop ketat. Suatu malam, pas aku ke kamar mandi, aku denger Bima ngomong ke Bunda di ruang tamu, “Bu Anggi, saya serius, saya mau nikahin Bunda!” Aku hampir ngejatohin sabun, buru-buru nguping. Bunda ketawa ngakak, “Bima, kamu kan seumuran Rian, ngomong apa sih?” Bima malah pede, “Saya suka wanita MILF kayak Bunda, yang udah pengalaman!” Aku pengen masuk dan jitak kepalanya, Bima, lo gila apa?!
3135Please respect copyright.PENANA4uW87IZdw3
Bunda cuma geleng-geleng, masih ketawa, “Bima, kamu lucu banget, tapi Bunda nggak main sama anak kuliah!” Bima nggak nyerah, “Bu, saya serius, saya bisa bikin Bunda bahagia, lho!” katanya, suaranya penuh semangat. Aku akhirnya keluar dari kamar mandi, batuk keras, “Bim, lo pulang sana, tugas udah selesai!” Bunda cuma nyanyi-nyanyi kecil, “Rian, temenmu ini kreatif ya!” Bima cuma cengengesan, tapi aku tahu dia nggak main-main. Aku melotot ke dia, “Bim, Bunda gue, bro, jangan macem-macem!” Bima akhirnya pamit, tapi aku yakin dia bakal balik dengan ide gila lagi.
3135Please respect copyright.PENANAnIripKSv2V
Setelah tiga lamaran ini, aku mulai kesal sekaligus kagum sama Bunda. Dia selalu santai, nggak risih, bahkan kayak menikmati perhatian itu, tapi tegas nolak semua. “Rian, Bunda nggak butuh laki-laki baru, cukup kamu aja,” katanya suatu malam sambil peluk aku. Aku cuma mengangguk, “Bunda, pokoknya hati-hati, ya, orang-orang itu genit banget!” Dia cuma ketawa, “Tenang, Rian, Bunda tahu kok mana yang bener dan mana yang cuma naksir.” Tapi aku tahu, ini cuma awal dari drama di hidup kami.
3135Please respect copyright.PENANAeVbO3e8KgT
Rumah kami tetap sama, penuh aroma lotion Bunda dan nyanyian dangdutnya. Tapi sekarang, aku mulai waspada sama orang-orang di sekitar. Pak RT, Mas Rudi, bahkan Bima, mereka semua kayak lalat yang nempel ke Bunda. Aku nggak tahu apa Bunda bakal terus nolak atau suatu hari goyah. Yang jelas, aku bakal jaga Bunda, apapun yang terjadi. “Rian, kamu jangan cemburu sama Bunda, ya,” candanya suatu pagi. Aku cuma nyengir, “Bunda, aku cuma nggak mau Bunda digodain sembarangan!”
3135Please respect copyright.PENANAwCRNcz9vI0
Hari itu, pas aku mau ke kampus, Bunda nganterin aku sampe pintu dengan tanktop kuning yang bikin tetangga melirik lagi. “Rian, belajar yang rajin, jangan mikirin Bunda mulu!” katanya, sambil nyanyi kecil. Aku cuma mengangguk, “Iya, Bunda, tapi Bunda juga jangan kasih harapan ke orang-orang itu!”
ns216.73.217.22da2


