Hari itu dimulai seperti biasa di rumah kami, dengan Bunda Anggi sibuk di dapur sambil menyanyi lagu dangdut pelan. Aku sedang asyik scroll ponsel di ruang tamu, mencoba fokus ke tugas kuliah. Tiba-tiba, terdengar teriakan khas Bunda dari kamar, “Rian! CD Bunda yang renda pink hilang lagi!” Aku menghela napas, sudah hafal drama bulanan ini. Sebulan sekali, entah kenapa, pakaian dalam Bunda—khususnya yang tipis dan berenda, selalu lenyap entah ke mana. Bunda keluar dari kamar, cuma pakai kaus crop top dan celana pendek, rambutnya masih basah usai mandi. Wajahnya cemberut, tapi tetap cantik dengan bibir merah alami yang bikin aku geleng-geleng.
2908Please respect copyright.PENANAdUisyFWItq
“Coba cek di lemari, Bun,” kataku sambil menahan tawa. “Atau di kasur, kan Bunda suka taruh sembarangan.” Bunda melotot, tapi matanya berkilat nakal. “Rian, Bunda nggak sembarangan, dong! Ini pasti ada yang nyuri!” katanya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pekarangan. Aku cuma mengangguk, tahu ini cuma alasan Bunda biar aku bantu cari. Dengan malas, aku bangun dan mulai menyisir kamar Bunda, cek kolong kasur, sampai ke jemuran di pekarangan, tapi nihil.
2908Please respect copyright.PENANACLn8qgWhFV
Parahnya, hari itu Bunda ngotot cuma mau pakai CD renda pink yang hilang itu. “Bunda nggak mood pakai yang lain, Rian!” katanya, sambil berdiri di depan cermin dengan BH yang kebetulan juga “nggak cocok” menurutnya. Aku panik, karena Pak RT tiba-tiba muncul di pintu, bawa alasan “ada undangan warga”. Bunda, dengan santainya, menyapa Pak RT cuma pakai kaus tipis yang bikin putingnya nyeplak jelas. “Bunda, pakai baju longgar dong!” bisikku, tapi Bunda cuma nyengir, “Ih, Rian, ribet amat!” Pak RT batuk-batuk, matanya jelas nggak fokus ke undangan.
2908Please respect copyright.PENANAeRmWeA4hAU
Malamnya, hujan deras mengguyur kampung kami, bikin udara dingin menusuk. Aku lagi asyik di kamar, ngerjain tugas, ketika Bunda masuk bawa bantal, wajahnya manja banget. “Rian, Bunda boleh tidur di sini, ya? Hujan gini Bunda kedinginan,” katanya, sudah nyelonong masuk selimutku. Bunda pakai daster tipis, rambutnya tergerai, dan aromanya bikin aku susah konsentrasi. Aku cuma bisa mengangguk, tahu Bunda lagi kangen sosok pendamping sejak ayah tiada. Dia meringkuk di sampingku, minta rambutnya diusap, dan aku kecup keningnya pelan, kebiasaan yang bikin dia tersenyum lemas.
2908Please respect copyright.PENANAYlWmfzM8dU
Keesokan harinya, drama CD hilang berlanjut. Bunda bongkar lemari, bikin kamarnya kayak kapal pecah, sambil ngoceh, “Ini pasti ulah si Bima!” Aku cuma geleng-geleng, nggak yakin temenku itu setega itu, meski Bima memang suka melotot tiap lihat Bunda. Aku disuruh cek pekarangan lagi, dan kali ini nemu BH renda hitam nyangkut di semak-semak. “Bun, ini BH-nya! Jatuh dari jemuran, kayaknya,” teriakku. Bunda cuma cengengesan, “Lah, kirain dicuri hantu!” Tapi CD pink-nya tetap nggak ketemu.
2908Please respect copyright.PENANAZEhQzxv7mg
Beberapa hari kemudian, Bima datang ke rumah, bawa buku kuliah yang dia pinjem minggu lalu. Matanya langsung nyalang pas lihat Bunda lagi nyanyi-nyanyi di dapur, pakai kaus ketat dan rok mini. “Rian, Bunda lo... um, kok selalu cakep, sih?” katanya, lupa buku yang dia bawa jatuh ke lantai. Aku cuma nyengir kecut, “Bim, fokus ke buku, bukan ke Bunda.” Tapi Bunda malah ikut nimbrung, “Bima, mau kue cubit nggak? Baru bikin nih!” Bima langsung blushing, dan aku cuma bisa tepuk jidat.
2908Please respect copyright.PENANAVrHZPAyHJM
Malam itu, Bunda lagi-lagi ngeluh soal CD-nya yang hilang, kali ini yang warna biru muda. “Rian, Bunda capek, loh, tiap bulan gini. Apa iya tetangga kita sejahat itu?” katanya sambil selonjoran di sofa. Aku cuma bisa nyengir, “Mungkin burung gagak nyuri, Bun.” Bunda ketawa ngakak, tapi matanya tetap cemberut. Aku tahu dia capek, urus rumah sendirian, masak, dan masih harus hadapi tatapan tetangga yang “lapar”. Aku usap rambutnya, dan dia langsung manja, memelukku sambil bilang, “Rian, untung ada kamu.”
2908Please respect copyright.PENANAzIK0QApVLU
Hujan deras datang lagi minggu berikutnya, dan Bunda kembali nyelonong ke kamarku. “Rian, Bunda kedinginan, boleh tidur sini lagi, ya?” katanya, sudah bawa bantal dan daster tipis yang bikin aku susah menelan. Aku cuma mengangguk, tahu ini caranya Bunda cari kenyamanan. Dia cerita soal hari-harinya, betapa capeknya ngurus semuanya tanpa ayah. Aku usap rambutnya, kecup keningnya, dan dia tersenyum, “Rian, kamu bikin Bunda nggak kesepian.” Aku cuma diam, tapi dalam hati bangga bisa jadi penutup luka Bunda.
2908Please respect copyright.PENANAFRDsbBDjin
Kejadian lucu terjadi saat Pak RT datang lagi, kali ini bawa alasan “cek meteran listrik”. Bunda, yang lagi bad mood karena CD kesukaannya hilang, keluar cuma pakai BH dan rok pendek. Aku buru-buru tarik dia ke kamar, “Bun, pakai baju dulu! Putingnya kelihatan!” Bunda cuma ketawa, “Ya Tuhan, Rian, kamu kayak polisi moral!” Pak RT cuma nyengir canggung, tapi matanya jelas nggak bisa bohong. Aku cuma bisa geleng-geleng, tahu Bunda nggak akan berubah.
2908Please respect copyright.PENANAFDAqG0flqr
Seminggu kemudian, misteri CD terpecahkan—setengahnya, sih. Aku nemu CD renda pink Bunda di bawah tumpukan cucian kotor di kamar mandi. “Bun, ini CD-nya! Bunda sendiri yang lupa taruh!” kataku, sambil nunjukin barang bukti. Bunda cuma cengengesan, “Lah, kirain Bunda dikira penyakit lupa ingatan!” Tapi dia tetap curiga ada yang nyuri, apalagi BH renda hitam yang ketemu di semak itu. Aku cuma bisa nyengir, nggak mau bilang kalau mungkin angin yang “jahat”.
2908Please respect copyright.PENANAMDQclrmHNY
Drama pakaian dalam ini bikin aku mikir, hidup sama Bunda kayak sinetron komedi dengan bumbu nakal. Bunda cantik, manja, dan polos banget, bikin orang-orang di sekitarnya resah. Dari Pak RT yang selalu cari alasan mampir, sampai Bima yang tiba-tiba rajin ke rumah, semua kayak terhipnotis pesona Bunda. Tapi di balik kelakuannya yang bikin aku tepuk jidat, aku tahu Bunda cuma butuh kasih sayang. Malam itu, saat hujan lagi deres, Bunda tidur di kamarku, minta diusap rambutnya. Aku kecup keningnya, dan dia berbisik, “Rian, kamu penutup luka Bunda.”
Hari-hari berlalu dengan tawa, drama, dan godaan tak terduga. Aku tahu, selama ada Bunda Anggi, hidupku nggak akan pernah datar.
ns216.73.217.22da2


