Pagi itu, aku, Rian, sudah siap dengan seragam kampus, tas ransel di pundak, dan perut kenyang setelah sarapan telur dadar buatan Bunda Anggi. Aroma kopi masih menyeruak dari dapur, dan Bunda, seperti biasa, nyanyi-nyanyi lagu dangdut sambil nyapu teras. Aku cek jam, masih ada waktu sebelum motoran ke kampus. Tiba-tiba, Bunda masuk ke kamarku dengan wajah campur kaget dan cengengesan, cuma pakai tanktop ketat dan celana pendek yang bikin pahanya... ya Tuhan, nggak usah dideskripsikan lagi. Di tangannya, dia pegang BH renda hitam yang baru dilepas, matanya berkilat nakal. “Rian, lihat ini! Susu Bunda keluar lagi!” katanya, sambil nunjukin noda basah di cup BH-nya.
2963Please respect copyright.PENANAO9fqe2nQqQ
Aku melongo, nggak nyangka drama susu ini berlanjut. “Bun, serius? Lagi?” tanyaku, sambil garuk-garuk kepala. Bunda cuma ketawa renyah, “Iya, tiba-tiba aja! Bunda kira kemarin cuma sekali, eh ternyata masih lanjut!” Dia narik tanktop-nya sedikit, dan bener saja, ada bercak basah di kain yang menempel di payudaranya yang semok. “Gimana, dong, Rian? Ini susunya kayak nggak mau berhenti,” katanya, nyengir genit. Aku cuma bisa menelan ludah, bingung harus jawab apa.
2963Please respect copyright.PENANAp3BsCqWnX4
Bunda ngasih BH-nya ke aku, “Cium, deh, masih manis nggak susunya?” Aku batuk-batuk, “Bun, apa-apaan, sih!” Tapi, entah kenapa, aku ambil BH itu dan iseng mengendus—aroma manis susunya bikin aku teringat masa kecil lagi. Bunda ngeliatin aku sambil nyengir, “Hah, kangen, ya? Dulu kamu suka banget, lho!” Aku buru-buru balikin BH-nya, wajahku memanas. Tapi Bunda malah nambahin, “Mau coba lagi nggak? Sayang, kan, kalau susunya kebuang!”
2963Please respect copyright.PENANAAWAUaUuJpv
Aku hampir nyemprot air minum yang lagi kusedot, kaget banget sama tawaran Bunda. “Bun, ini... nggak wajar, lah!” kataku, tapi Bunda cuma ketawa, “Wajar apa nggak, kamu kan anak Bunda! Ayo, bantu Bunda biar nggak bercak-bercak gini.” Dengan santai, dia narik tanktop-nya ke atas, memperlihatkan payudaranya yang penuh dengan puting cokelat yang sedikit basah. Bunda telentang di kasurku, nyengir genit, “Cepet, Rian, nanti kamu telat kuliah!” Aku bengong, otakku blank, tapi entah kenapa, aku mendekat dengan canggung.
2963Please respect copyright.PENANAxBk02kc2ml
Aku menunduk, masih ragu, tapi pelan-pelan mendekatkan mulutku ke payudara Bunda. Aroma manis susunya bikin aku nostalgia, dan saat aku mulai menyedot, susunya mengalir hangat dan manis, persis seperti yang kuingat dari pagi kemarin. Bunda cuma nyengir, tangannya mengelus rambutku, “Gitu, dong, Rian. Kayak dulu, kan?” Aku cuma mendengus, fokus sama rasa susu yang bikin perutku hangat. Rasanya aneh, tapi anehnya nyaman, kayak balik ke masa kecil. Bunda kelihatan rileks, matanya setengah terpejam, kayak menikmati momen ini.
2963Please respect copyright.PENANA6Zq9rWm4ay
“Rian, dulu tiap nyusuin kamu, Bunda ngerasa damai banget,” kata Bunda pelan, suaranya lembut. Aku cuma mengangguk, nggak bisa jawab karena mulutku sibuk. Susunya nggak banyak, tapi cukup bikin aku kenyang secara ajaib. Setelah beberapa menit, aku mundur, wajahku panas, dan Bunda cuma ketawa, “Lho, udah? Cepet amat kenyangnya!” Dia tarik tanktop-nya turun, lalu selonjoran di kasurku, kayak nggak ada yang aneh. Aku buru-buru bangkit, “Bun, ini rahasia kita, ya. Aku ke kampus dulu!” Bunda cuma nyengir, “Iya, iya, jangan ceritain Bima, nanti dia iri!”
2963Please respect copyright.PENANARyW9S388D4
Aku berangkat ke kampus dengan perut kenyang dan kepala penuh tanda tanya. Di jalan, aku cuma bisa geleng-geleng, nggak nyangka pagi ini bakal seheboh itu. Di kampus, Bima nyamperin, “Rian, lo kenapa wajahnya aneh? Ketemu cewek cakep?” Aku cuma nyengir kecut, “Bukan cewek, Bim, cuma... Bunda.” Bima melongo, “Bunda lo? Ngapain?” Aku buru-buru ganti topik, nggak mungkin ceritain drama susu tadi, apalagi ke Bima yang udah naksir Bunda.
2963Please respect copyright.PENANA3k3RoZCQPY
Pulang ke rumah, Bunda udah balik ke mode biasanya, nyanyi-nyanyi di dapur sambil bikin kue cubit. Kali ini, syukurlah, dia pakai kaus longgar, nggak nyeplak. “Rian, tadi kenyang, kan? Ini kue cubit buat cemilan,” katanya, matanya berkilat nakal. Aku cuma mengangguk, nggak mau bahas pagi tadi, tapi Bunda malah nanya, “Susu Bunda tadi enak, nggak? Manis, kan?” Aku batuk-batuk, “Bun, udah, deh, fokus ke kue aja!” Bunda cuma ketawa ngakak, kayak nggak ada beban.
2963Please respect copyright.PENANA2SMLE4ec49
Sore itu, drama pakaian dalam muncul lagi. Bunda ngeluh CD renda pinknya hilang lagi, “Rian, ini pasti tetangga iseng! Cek pekarangan, dong!” Aku disuruh menyisir jemuran, kolong kasur, sampai semak-semak, tapi nihil. Bunda berdiri di depan cermin, cuma pakai BH dan rok pendek, ngoceh, “Kalau nggak ketemu, Bunda nggak mood pakai yang lain!” Aku buru-buru nyuruh dia pakai baju longgar, “Bun, nanti Pak RT dateng lagi, loh!” Bunda cuma nyengir, “Biarin, kan Bunda nggak salah apa-apa!”
2963Please respect copyright.PENANACRdhr5chxc
Malamnya, hujan deras mengguyur, dan Bunda, seperti kebiasaannya, nyelonong ke kamarku bawa bantal. “Rian, Bunda kedinginan, boleh tidur sini, ya?” katanya, sudah masuk selimutku dengan daster tipis. Aku cuma mengangguk, tahu ini caranya Bunda cari kenyamanan. Dia minta rambutnya diusap, dan aku kecup keningnya, seperti biasa. “Rian, makasih ya, kamu selalu ada buat Bunda,” bisiknya, suaranya penuh rasa syukur. Aku cuma tersenyum, tahu Bunda cuma butuh kehadiranku setelah kehilangan ayah.
2963Please respect copyright.PENANA5jFx4Vl5aP
Keesokan harinya, Pak RT mampir dengan alasan “ngasih tahu soal arisan”. Bunda keluar dengan kaus tipis yang bikin aku panik, tapi untungnya nggak nyeplak kali ini. “Bu Anggi, arisan minggu depan, ya,” kata Pak RT, tapi matanya jelas nggak fokus ke kertas di tangannya. Bunda cuma mengangguk, “Iya, Pak, nanti Bunda dateng.” Aku cuma bisa nyengir, tahu Pak RT pasti balik lagi besok dengan alasan lain. Bunda, dengan santainya, balik ke dapur, nyanyi-nyanyi lagi.
2963Please respect copyright.PENANAVctHxlmoEK
Bunda cerita lagi soal susunya yang masih keluar sedikit-sedikit. “Rian, apa Bunda harus ke dokter? Tapi kayaknya nggak gitu parah, deh,” katanya, sambil cengengesan. Aku cuma bilang, “Bun, kalau khawatir, cek aja, tapi mungkin cuma hormon.” Bunda nyengir, “Atau kamu bantu kurangin lagi besok pagi?” Aku langsung batuk-batuk, “Bun, jangan mulai lagi, deh!” Bunda cuma ketawa, “Rian, kamu gampang banget blushing, kayak ayahmu dulu!”
2963Please respect copyright.PENANAsyN8IAz8aT
Hari itu, aku nemu CD renda pink Bunda di bawah tumpukan cucian kotor. “Bun, ini CD-nya! Bunda lupa taruh lagi!” kataku, sambil nunjukin barang bukti. Bunda cuma cengengesan, “Lah, kirain dicuri hantu!” Tapi dia tetap curiga ada yang nyuri BH-nya yang lain. Aku cuma bisa nyengir, nggak mau bilang kalau mungkin angin yang “jahat”. Aku tahu, drama ini pasti berlanjut bulan depan.
ns216.73.217.22da2


